Mengenang COVID-19 di Tanah Suci: Foto-Foto yang Tak Terlupakan

6 Tahun Berlalu: Bagaimana COVID-19 Mengubah Tata Cara Ibadah di Tanah Suci

Tidak terasa, sudah lebih dari enam tahun sejak pandemi COVID-19 mengubah banyak hal dalam kehidupan umat manusia, termasuk tata cara pelaksanaan Ibadah di Tanah Suci.

Bagi jamaah yang pernah melaksanakan umroh sebelum tahun 2020, suasana di Masjidil Haram tentu masih sangat familiar: jamaah dari berbagai negara berkumpul dalam jumlah besar, berdiri rapat ketika shalat, dan melakukan thawaf serta ibadah lainnya tanpa pembatasan jarak.

Namun, pandemi COVID-19 membuat pemandangan tersebut berubah secara drastis.

Jamaah harus mengikuti berbagai protokol kesehatan, menjaga jarak, menggunakan masker, menjalani pemeriksaan kesehatan, hingga mengikuti sistem pengaturan keberangkatan dan ibadah yang berbeda dari sebelumnya.

Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, sebagian besar pembatasan tersebut telah dicabut. Tetapi perjalanan panjang itu meninggalkan sejarah penting dalam penyelenggaraan ibadah umroh.

Awal Pandemi: Umroh Sempat Dihentikan

Perubahan besar dimulai pada akhir Februari 2020, ketika Arab Saudi mengambil langkah pencegahan dengan menghentikan sementara kedatangan jamaah dari luar negeri untuk melaksanakan umroh.

Suasana Masjidil Haram pada masa pandemi COVID-19 tahun 2020

Keputusan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah Arab Saudi untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Tidak lama kemudian, akses umroh bagi warga dan penduduk di Arab Saudi juga dihentikan sementara.

Bagi umat Islam di seluruh dunia, keputusan ini menjadi sesuatu yang sangat mengejutkan. Masjidil Haram yang biasanya dipenuhi jamaah dari berbagai penjuru dunia harus mengalami pembatasan yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern.

Umroh Dibuka Kembali dengan Aturan yang Berbeda

Setelah beberapa bulan mengalami penutupan, pelaksanaan umroh mulai dibuka kembali secara bertahap pada 4 Oktober 2020.

Namun, umroh pada masa itu tidak lagi seperti sebelumnya.

Jamaah harus mengikuti protokol kesehatan yang ketat. Jumlah jamaah dibatasi, pergerakan jamaah diatur, dan penerapan physical distancing atau menjaga jarak fisik menjadi bagian penting dalam pelaksanaan ibadah.

Jamaah kembali melaksanakan umroh setelah pembukaan bertahap pada Oktober 2020 dengan penerapan protokol kesehatan

Pemandangan di Masjidil Haram pun berubah.

Jika sebelumnya jamaah terbiasa melakukan thawaf dalam kerumunan yang padat, pada masa pandemi jamaah diarahkan untuk menjaga jarak. Demikian pula ketika melaksanakan shalat, saf yang biasanya rapat harus diberi jarak.

Saf Shalat Tidak Lagi Rapat

Salah satu perubahan yang paling mudah diingat jamaah adalah jarak antarjamaah ketika shalat.

Dalam kondisi normal, umat Islam diperintahkan untuk merapatkan dan meluruskan saf. Namun selama pandemi, aturan kesehatan mengharuskan jamaah menjaga jarak untuk mengurangi risiko penularan virus.

Jamaah shalat di Masjidil Haram dengan menerapkan physical distancing pada masa pandemi COVID-19.

Garis-garis atau tanda tertentu digunakan untuk membantu jamaah menjaga posisi masing-masing.

Bagi banyak jamaah, pemandangan tersebut terasa sangat berbeda.

Masjidil Haram tetap menjadi tempat berkumpulnya umat Islam, tetapi pada saat yang sama setiap orang harus menjaga jarak satu sama lain.

Thawaf dengan Jarak yang Teratur

Perubahan juga terlihat ketika jamaah melakukan thawaf.

Sebelum pandemi, jutaan jamaah terbiasa melakukan thawaf dengan jarak yang sangat dekat, terutama ketika berada di area yang ramai.

Pada masa pandemi, pengaturan jamaah dilakukan dengan lebih ketat. Jamaah diarahkan untuk menjaga jarak dan mengikuti jalur yang telah ditentukan.

Thawaf di sekitar Ka’bah dengan mengikuti tanda jarak yang diterapkan selama pandemi COVID-19

Hal ini menjadi pengalaman yang tidak biasa bagi jamaah yang melaksanakan umroh pada masa tersebut.

Ibadah yang biasanya dilakukan dalam suasana ramai dan penuh sesak harus dilaksanakan dengan sistem yang lebih teratur dan terbatas.

Teknologi Ikut Mengubah Perjalanan Umroh

Pandemi juga mempercepat penggunaan teknologi dalam penyelenggaraan umroh.

Salah satu perubahan yang dirasakan jamaah adalah penggunaan sistem elektronik untuk pengaturan akses dan jadwal ibadah.

Jamaah harus mengikuti ketentuan dan jadwal yang telah ditetapkan, termasuk untuk mendapatkan izin atau akses ke lokasi tertentu.

Hal ini menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi digunakan untuk membantu mengatur jumlah jamaah dan mengurangi kepadatan.

Maret 2022: Saf Mulai Kembali Rapat

Setelah situasi pandemi membaik dan kebijakan kesehatan mulai dilonggarkan, suasana di Masjidil Haram perlahan kembali seperti sebelum pandemi.

Pada Maret 2022, tanda-tanda pembatas jarak di Masjidil Haram mulai dicabut dan jamaah kembali dapat melaksanakan shalat dengan saf yang lebih rapat.

Bagi banyak umat Islam, momen tersebut menjadi simbol kembalinya suasana ibadah seperti sebelum pandemi.

Tidak lama kemudian, berbagai pembatasan kesehatan lainnya juga semakin dilonggarkan.

Lebih dari 6 Tahun Sejak Pandemi Mengubah Masjidil Haram

Jika dihitung dari awal perubahan besar pada Februari 2020 hingga September 2026, sudah sekitar 6 tahun 7 bulan berlalu.

Sementara itu, masa ketika pelaksanaan umroh sangat dipengaruhi oleh aturan menjaga jarak berlangsung sekitar 1 tahun 5 bulan, sejak umroh kembali dibuka pada Oktober 2020 hingga pembatasan jarak mulai dicabut pada Maret 2022.

Enam tahun lebih mungkin terasa panjang.

Namun bagi umat Islam yang pernah mengalami masa tersebut, kenangan tentang Masjidil Haram yang lebih lengang, saf yang berjarak, thawaf dengan jalur khusus, serta berbagai pemeriksaan kesehatan masih menjadi bagian dari sejarah perjalanan ibadah mereka.

Sebuah Pengalaman yang Tidak Akan Mudah Dilupakan

Pandemi COVID-19 memberikan pelajaran bahwa kesempatan untuk beribadah di Tanah Suci merupakan sesuatu yang sangat berharga.

Dulu, berkumpul bersama jutaan umat Islam dari berbagai negara di Masjidil Haram mungkin dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Namun ketika pandemi datang, kesempatan tersebut sempat dibatasi.

Ketika jamaah kembali dapat memenuhi Masjidil Haram, berdiri dalam saf yang rapat, melakukan thawaf bersama, dan beribadah dengan suasana yang lebih normal, banyak orang semakin menyadari betapa besar nikmat dapat mengunjungi Baitullah.

Dari Jarak Menjadi Kedekatan Kembali

Perjalanan umroh selama masa pandemi merupakan bagian penting dari sejarah modern penyelenggaraan ibadah di Tanah Suci.

Dari penghentian sementara, pembukaan dengan pembatasan, menjaga jarak, penggunaan protokol kesehatan, hingga akhirnya kembali kepada suasana ibadah yang lebih normal.

Kini, ketika jamaah kembali memenuhi Masjidil Haram, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk menjadi tamu Allah adalah sebuah nikmat yang patut disyukuri.

Artikel yang Direkomendasikan